Skip to content

Pintu Alam Ghaib Dibalik Air Terjun Grojogan Sewu

Tahun kejadian: 2020
Sumber cerita: pengalaman pribadi penulis
Lokasi: Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

Beberapa catatan tidak dimulai sebagai cerita. Mereka hanya kumpulan kejadian yang diletakkan di atas kertas karena seseorang merasa perlu menyimpannya sebelum ingatan berubah bentuk. Catatan ini juga demikian.

Tahun itu, 2020, sebuah tahun dimana wabah Covid-19 merajalela di seluruh dunia. Tahun itu adalah tahun ketika banyak orang belajar diam lebih lama dari biasanya. Kota-kota menjadi lebih pelan. Suara kendaraan berkurang. Banyak percakapan terjadi di jarak yang sedikit canggung. Di beberapa tempat, orang menyebutnya masa yang aneh. Di tempat lain, orang menyebutnya masa yang harus dilalui saja.

Saya datang ke Tawangmangu bukan untuk mencari sesuatu yang spektakuler, bukan hanya refreshing saja. Setidaknya bukan dengan sengaja. Saya datang karena ingin berjalan, mencatat udara, dan melihat bagaimana sebuah tempat wisata berubah ketika pengunjung berkurang. Ada semacam ketenangan yang jarang ditemukan pada musim ramai.

Nama air terjun itu sudah lama dikenal: Air Terjun Grojogan Sewu.

Orang-orang biasanya datang pada pagi atau siang hari. Mereka menuruni ratusan anak tangga, membawa bekal, tertawa, mengambil foto. Tetapi pada malam hari, tempat itu menjadi lain. Bukan menyeramkan. Hanya lebih jujur tentang sepi.

Saya menginap di sebuah hotel kecil bernama Hotel Bintang Tawangmangu. Bangunannya sederhana, dua lantai, dengan lorong yang lampunya agak kekuningan. Dari hotel itu, suara kendaraan dari arah terminal masih terdengar, tetapi pelan. Udara dingin menempel di jendela kamar.

Kebiasaan saya ketika menginap di tempat baru adalah mengobrol dengan penduduk lokal, karyawan hotel, dan juga sesama tamu yang kebetulan sedang menginap disitu. Sore hari saya sempat berjalan-jalan santai dan ngopi di depan Pasar Wisata Tawangmangu, saat itu di pintu masuk sebelah timur ada warung kaki lima dengan berbagai macam makanan dan minuman. Warga sekitar menyebutnya dengan “warung Hik” yaitu sebuah warung dengan gerobak dorong yang bisa dipindah-pindah.

Di situlah saya pertama kali mendengar tentang banyaknya wisatawan atau mahasiswa yang datang dari Jakarta. Warga sekitar situ pernah mengatakan bahwa sering ada pemuda-pemuda dari luar kota yang bertamasya ke Tawangmangu. Sering-seringnya dari Jakarta, kadang ada juga yang dari luar pulau.

Beberapa hari sebelumnya, di Jakarta, dua mahasiswa bertemu di kantin kampus. Catatan ini saya kumpulkan dari rekaman video dan percakapan yang kemudian ditemukan di kamera mereka, juga dari orang-orang yang sempat melihat mereka sebelum malam itu.

Oki Sulistyo berasal dari Solo. Ia bicara dengan nada yang cenderung pelan, seperti orang yang lebih sering berpikir sebelum mengucapkan sesuatu.

Darsa Kusumah berasal dari Bandung. Ia punya kebiasaan menepuk meja saat merasa setuju dengan sesuatu.

Siang itu mereka membicarakan hal yang hampir semua mahasiswa bicarakan saat itu: aturan yang membuat semua orang harus tinggal lebih banyak di rumah. Harus jaga jarak. Harus mau divaksin, dan sebagainya.

“Kayak hidup ditahan,” kata Darsa.

“Ya… tapi ya harus dijalanin,” jawab Oki.

Percakapan mereka tidak dramatis. Tidak juga panjang. Hanya dua orang yang mulai merasa penat oleh rutinitas yang tidak berubah.

Beberapa meja dari mereka, dua mahasiswa lain sedang sibuk dengan laptop: Jeffry Sihotang dan Anton Jiwasraya. Mereka satu tim dalam beberapa tugas kuliah. Kebiasaan mereka sederhana: bekerja sampai selesai, lalu baru berpikir tentang hal lain.

Darsa yang pertama kali menyebut ide pergi.

Bukan jauh-jauh.

Hanya ingin melihat tempat yang berbeda dari layar laptop.

Ia menelepon Anton. Percakapan itu pendek. Ia menyebut satu tempat makan yang mereka semua tahu: warteg di belakang kampus Trisakti.

Pertemuan terjadi malam itu juga.

Warteg tersebut tidak memiliki sesuatu yang istimewa selain lampu terang dan meja yang selalu cukup untuk orang yang datang terlambat. Mereka duduk berempat. Di meja ada teh manis, nasi hangat, dan ponsel yang terus berpindah tangan.

Mereka mulai mencari sesuatu di internet.

Bukan tempat wisata biasa.

Melainkan mitos.

Indonesia punya banyak sekali cerita seperti itu. Sebagian orang menganggapnya bagian dari tradisi. Sebagian lagi hanya membacanya sebagai cerita lama yang bertahan karena orang suka menceritakannya lagi.

Nama Tawangmangu muncul.

Nama Grojogan Sewu muncul setelahnya.

Jeffry membaca salah satu artikel dengan suara datar. Tentang kabar lama mengenai sesuatu di balik air terjun. Sebuah pintu. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu muncul.

Anton hanya tertawa kecil.

“Orang juga suka bikin cerita,” katanya.

Oki tidak langsung menanggapi. Ia memandang layar ponsel agak lama. Lalu berkata pelan:

“Kakekku pernah cerita tentang tempat itu.”

Kalimat itu tidak langsung mengubah suasana. Tetapi cukup membuat mereka berhenti sebentar.

Kadang rencana perjalanan lahir dari momen yang sederhana seperti itu.

Perjalanan mereka ke Tawangmangu berlangsung seperti perjalanan biasa. Mereka memilih melewati jalur utama yaitu melewati Palur, Karanganyar, Karangpandan, langsung naik terus hingga Tawangmangu. Mobil sewaan, jalan yang berkelok menuju daerah pegunungan, dan beberapa kali berhenti untuk membeli kopi dan rokok di pinggir jalan.

Di rekaman kamera, perjalanan itu tampak ringan. Mereka tertawa. Mereka membicarakan tugas kuliah. Mereka juga membicarakan kemungkinan bahwa semua ini hanya akan berakhir dengan foto air terjun dan udara dingin.

Mereka tiba sore hari.

Tawangmangu saat itu tidak terlalu ramai. Udara membawa bau dedaunan basah. Beberapa warung masih buka, tetapi tidak banyak pengunjung.

Mereka check-in di Hotel Bintang.

Pegawai hotel sempat bertanya dari mana mereka datang.

“Jakarta,” jawab Anton.

Pegawai hotel mengangguk seperti orang yang sudah sering mendengar jawaban itu.

Tidak ada percakapan panjang. Hanya basa-basi yang cukup untuk orang-orang yang baru bertemu.

Saya tiba di hotel itu sehari setelah mereka.

Saat itu saya belum tahu bahwa catatan ini akan berkaitan dengan mereka.

Saya hanya melihat beberapa orang menyebut tentang empat mahasiswa yang datang malam sebelumnya. Mereka dianggap biasa saja. Anak muda yang ingin berjalan-jalan.

Namun kemudian saya mengetahui satu hal: mereka sempat bertanya tentang Grojogan Sewu pada malam hari.

Pengelola tempat wisata sebenarnya tidak membuka akses pada malam hari. Tetapi di daerah seperti itu, beberapa hal bisa terjadi jika orang datang dengan niat baik, bicara sopan, dan ada warga yang mengenal mereka yang memberi izin terbatas.

Mereka mendapatkan izin. Ada seorang warga lokal bernama Agus yang bersedia menjadi penunjuk jalan dari pintu masuk sampai dengan ke lokasi air terjun.

Tidak sepenuhnya resmi.

Tetapi juga tidak sepenuhnya dilarang.

Jam yang disebutkan adalah pukul sepuluh malam.

Saya sendiri kebetulan sedang berada di sekitar kawasan itu malam tersebut. Hanya untuk sekedar mengobrol dengan warga lokal, berbagi cerita, berbagi kopi dan juga rokok.

Bukan tepat di lokasi air terjun.

Tetapi cukup dekat untuk mendengar suara airnya dari kejauhan.

Air terjun memiliki suara yang berbeda pada malam hari. Lebih berat, seolah udara malam menahan gema.

Sekitar pukul sepuluh malam, empat orang mahasiswa ditemani seorang penunjuk jalan bernama Agus terlihat berjalan menuju jalur turun. Total ada lima orang dalam kelompok itu.

Mereka membawa tripod.

Kamera.

Tas kecil.

Tidak banyak percakapan.

Seperti orang yang sudah sepakat dengan tujuan mereka.

Anton yang jarang berolahraga mulai ngos-ngosan ketika menuruni tangga yang jumlahnya sulit untuk dihitung.

“Mas Agus, masih jauh ya?” tanya Anton sambil megap-megap.

“Lumayan mas.” jawab Agus singkat.

Di rekaman kamera, mereka terlihat berhenti beberapa kali di anak tangga. Mungkin karena jarak yang cukup jauh. Napas terdengar di mikrofon kamera, bercampur dengan suara air yang semakin kuat.

Ketika mereka akhirnya sampai di area dekat air terjun, kabut tipis sudah mulai terasa.

Air jatuh dari ketinggian dengan cara yang sama seperti ribuan malam sebelumnya.

Tidak ada sesuatu yang aneh pada saat itu.

Mereka meletakkan tripod di atas batu besar.

Kamera diarahkan ke arah tirai air.

Anton memeriksa fokus.

Jeffry melihat layar.

Darsa duduk di batu.

Oki berdiri agak jauh, memperhatikan air terjun.

….dan si penunjuk jalan, Agus, sedang memeriksa lampu senternya.

Waktu berjalan tanpa banyak kejadian.

Jam sebelas malam.

Jam dua belas malam.

Suara yang dominan hanya air.

Sesekali ada suara serangga.

Kadang angin menggerakkan daun.

Rekaman kamera menunjukkan mereka menunggu.

Mereka tidak banyak bicara. Hanya percakapan pendek.

“Masih biasa saja,” kata Jeffry.

“Ya,” jawab Anton.

Darsa tertawa kecil, seperti orang yang mulai merasa ide ini mungkin terlalu sederhana.

Oki tetap melihat air terjun.

Ada kebiasaan pada beberapa orang: ketika menunggu sesuatu yang tidak pasti, mereka menjadi lebih diam dari biasanya.

Sekitar pukul satu dini hari, sesuatu terjadi.

Rekaman kamera menunjukkan perubahan cahaya yang tidak muncul sebelumnya.

Awalnya samar.

Lalu menjadi lebih jelas.

Cahaya itu berada di balik air terjun.

Warnanya tidak seperti lampu biasa.

Ungu, dengan sedikit merah yang bergerak di dalamnya seperti kabut yang punya warna.

Tidak lama.

Tetapi cukup terang untuk membuat keempat orang itu berdiri hampir bersamaan.

Di rekaman terdengar napas mereka berubah.

Bukan karena takut.

Lebih karena sesuatu yang tidak mereka rencanakan benar-benar terjadi.

Jeffry berkata pelan, “Kalian lihat itu?”

Tidak ada yang menjawab langsung.

Darsa mendekat ke kamera.

Anton melihat layar.

Oki tetap memandang air terjun, tetapi lebih lama dari sebelumnya.

Agus, si penunjuk jalan yang notabene adalah warga lokal pun juga heran dengan pemandangan itu. Selama bertahun-tahun baru kali ini Agus sebagai warga lokal melihat pemandangan aneh seperti itu.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak terdengar jelas di awal rekaman, tetapi di bagian yang diperbesar terdengar:

“Kakek pernah cerita… tapi aku pikir cuma cerita.”

Tidak ada yang tertawa saat itu.

Air tetap jatuh dengan suara yang sama.

Cahaya itu tidak berkedip seperti lampu. Ia hanya ada, lalu perlahan bergerak di balik tirai air.

Seperti sesuatu yang berada di sisi lain dari jatuhnya air.

Keputusan mereka terjadi dengan cara yang tidak dramatis.

Tidak ada hitungan mundur.

Tidak ada kalimat heroik.

Hanya kalimat sederhana.

“Ayo lihat lebih dekat.”

Agus, si penunjuk jalan sudah selesai tugasnya. Ia mohon diri dengan sopan.

“ini untuk beli rokok, mas Agus.” kata Jeffry sambil memberikan amplop putih yang agak tebal.
“Jangan repot-repot mas.”
“Rejeki jangan ditolak mas.” ujar Anton.

Akhirnya Agus mengucapkan terimakasih dan bersalaman dengan keempat mahasiswa itu, lalu pulang.

Kabut semakin tebal di lokasi itu, dalam penglihatan saya ini pasti akan turun hujan.

” Ayo lanjut. Kita kesana.”
Saya tidak tahu siapa yang pertama kali mengatakannya. Rekaman tidak cukup jelas.

Tetapi mereka bergerak.

Satu per satu.

Mendekati air terjun.

Air yang jatuh dari ketinggian itu cukup kuat. Biasanya orang tidak berdiri terlalu dekat kecuali benar-benar ingin melihat bagian belakangnya.

Oki berjalan lebih dulu.

Jeffry mengikuti.

Darsa membawa senter kecil.

Anton melihat kamera sekali lagi sebelum ikut bergerak.

Tripod tetap berdiri di atas batu.

Kamera tetap menyala.

Cahaya di balik air terlihat lebih jelas dari sudut itu.

Ungu yang tidak sepenuhnya terang.

Seperti warna yang tidak biasa berada di alam.

Suara air membuat mikrofon kamera hampir penuh oleh gemuruh.

Mereka mendekati tirai air.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kemudian tubuh mereka mulai tertutup oleh jatuhnya air.

Dalam beberapa detik, kamera hanya menangkap bayangan yang bergerak di balik kabut air.

Dan cahaya itu.

Cahaya yang tidak bergerak seperti senter.

Lebih seperti sesuatu yang ada di sana sebelum mereka datang.

Setelah itu, rekaman menjadi kosong dari manusia.

Air tetap jatuh.

Cahaya perlahan memudar.

Kamera tetap merekam sampai baterainya habis beberapa jam kemudian.

Pagi hari, warga menemukan tripod itu.

Awalnya mereka mengira itu milik pengunjung yang lupa mengambilnya.

Tetapi kemudian mereka menyadari tidak ada orang di sekitar.

Tas kecil ditemukan tidak jauh dari sana.

Pihak setempat melaporkan hal itu.

Tim SAR dari Surakarta datang beberapa waktu setelahnya.

Pencarian dilakukan.

Di sekitar air terjun.

Di jalur turun.

Di area hutan sekitar.

Nama-nama itu mulai disebut di laporan.

Oki Sulistyo.

Jeffry Sihotang.

Darsa Kusumah.

Anton Jiwasraya.

Empat mahasiswa.

Datang untuk melihat sesuatu.

Tidak kembali.

Saya tiba di lokasi beberapa hari setelah pencarian dimulai.

Udara masih sama dinginnya.

Air terjun masih sama.

Tripod dan kamera sudah diamankan oleh petugas.

Saya berbicara dengan beberapa orang yang terlibat dalam pencarian.

Tidak ada yang memberikan kesimpulan.

Beberapa hanya mengatakan bahwa daerah air terjun memang memiliki banyak cerita lama.

Beberapa lagi hanya mengatakan bahwa alam kadang lebih luas dari dugaan manusia.

Saya berjalan sampai ke batu tempat tripod itu berdiri.

Di sana tidak ada tanda apa pun yang berbeda dari batu lainnya.

Air tetap jatuh.

Kabut tetap naik.

Dan jika berdiri cukup lama, seseorang bisa mendengar sesuatu yang mirip dengan ingatan yang berulang.

Di salah satu warung kecil dekat jalur turun, seorang warga mengatakan kalimat yang saya catat di buku kecil saya.

Ia tidak mengatakannya dengan nada misterius.

Hanya seperti seseorang yang menyampaikan sesuatu yang sudah lama ada.

“Kadang orang datang ke tempat lama dengan pertanyaan baru,” katanya.
“Kadang tempat lama menjawab dengan cara yang tidak bisa kita bawa pulang.”

Ia kemudian melanjutkan mengaduk kopi.

Tidak ada yang menanggapi kalimat itu.

Tidak perlu.

Beberapa kalimat memang lebih cocok dibiarkan berdiri sendiri.

Malam berikutnya, saya kembali ke area dekat air terjun.

Tidak terlalu dekat.

Hanya cukup untuk mendengar suara airnya.

Langit di atas Tawangmangu tampak lebih gelap dari kota besar.

Kadang awan bergerak pelan.

Kadang kabut turun dari arah hutan.

Saya duduk cukup lama di sana.

Tidak ada cahaya ungu.

Tidak ada kejadian yang bisa disebut aneh.

Hanya suara air yang terus jatuh seperti waktu yang tidak pernah berhenti.

Tetapi ada satu hal yang terasa jelas saat malam semakin dalam.

Beberapa tempat tidak hanya menyimpan air, batu, dan pepohonan.

Mereka juga menyimpan langkah orang-orang yang pernah datang.

Dan kadang, langkah itu tidak semuanya kembali ke arah yang sama.

Catatan ini tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan.

Hanya sebuah pengingat bahwa pada tahun 2020, pada malam antara pukul sepuluh hingga menjelang subuh, empat mahasiswa pernah berdiri di samping air terjun Grojogan Sewu.

Mereka menunggu sesuatu.

Mereka melihat sesuatu.

Lalu mereka berjalan ke arah yang tidak lagi terlihat oleh kamera.

Sejak saat itu, cerita tentang pintu di balik air terjun itu tidak berhenti.

Bukan karena orang ingin menakut-nakuti.

Melainkan karena beberapa kejadian, ketika dicatat dengan jujur, memang tidak selesai di halaman terakhir.

Dan mungkin memang tidak perlu selesai.

Sebab beberapa tempat di dunia ini, jika diperhatikan cukup lama, terasa seperti sedang membuka sesuatu yang tidak selalu ditujukan kepada semua orang. Hal ini sama rasanya ketika kita bercermin dengan jarak satu jengkal di tengah malam, jam 12 malam. Ketika kita menunduk pun bayangan kita didalam cermin masih menatap wajah kita.

Air terjun Grojogan Sewu itu seperti cermin. Jika diperhatikan cukup lama, terasa seperti sedang membuka sesuatu yang tidak selalu ditujukan kepada semua orang. Namun hanya ditujukan untuk orang-orang tertentu.

*

=== THE END ===

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Konspirasi Dibalik Pertandingan Gulat Profesional WWE

Di balik sorot lampu panggung dan aksi spektakuler WWE, didalam ring pertandingan gulat yang selalu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
ONGGO-INGGI

Malam di Surakarta tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hanya berpura-pura diam. Angin dari arah Bengawan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 3 — MALAM YANG MENJADI TERLALU TENANG

Serial Title: Penari Kesepuluh Yang Tidak Dipanggil Keraton tidak berubah.Pagi datang seperti biasa. Siang berjalan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kereta Malam — Catatan Fenomena Wanita Berbaju Putih

Catatan ini disusun dari berbagai kesaksian tentang perjalanan kereta malam di Jawa Barat—tentang gerbong yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
EPISODE 1 — TAMU YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Serial Title: PENARI KESEPULUH YANG TIDAK DIPANGGIL Penyebab Awal (Prolog) Keraton itu tidak pernah benar-benar...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!