Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai -Episode 24

Episode 24 — Enam Bulan yang Diam-Diam Mengubah Segalanya

Pagi di kamar kos itu tidak pernah benar-benar ramai, tetapi juga tidak lagi terasa kosong seperti dulu. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai tipis yang warnanya sudah mulai pudar. Udara pagi masih agak dingin, membawa bau sabun cuci dari kamar mandi bersama di ujung lorong.

Anneliese sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu.

Ia duduk di tepi tempat tidur kecilnya, menatap lantai keramik yang bersih namun sederhana. Ada kebiasaan baru yang muncul dalam beberapa bulan terakhir: ia selalu duduk diam sebentar sebelum memulai hari, memastikan pikirannya tidak sedang berlari ke masa lalu.

Hari ini terasa biasa.

Dan justru karena itulah ia merasa cukup tenang.

Enam bulan lalu, ia masih tidur di sudut bangunan kosong yang ada pohon kering di depannya. Angin malam sering masuk tanpa permisi. Bau lembap dari beton tua tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Tubuhnya saat itu selalu tegang bahkan ketika ia mencoba beristirahat.

Sekarang semuanya berbeda, meskipun tidak mewah.

Tempat tidurnya bersih.
Ada lemari kecil.
Ada gantungan pakaian yang isinya tidak lagi hanya dua atau tiga potong baju.

Perubahan itu terjadi perlahan, hampir tanpa ia sadari.

Anneliese berdiri, merapikan selimut, lalu membuka jendela sedikit lebih lebar. Udara pagi masuk lebih segar. Ia menarik napas panjang. Tidak ada bau aneh. Tidak ada suara langkah orang asing di lorong gelap. Tidak ada rasa terancam.

Hanya pagi biasa.

Ia mengambil pakaian kerjanya yang sudah disetrika semalam. Baju sederhana, bersih, dan cukup rapi untuk dipakai di restoran. Tangannya bergerak dengan tenang, seperti seseorang yang akhirnya kembali memiliki rutinitas.

Di meja kecil dekat tempat tidur, dompetnya terletak rapi.

Di dalamnya ada uang.

Tidak banyak, tetapi selalu ada.

Itu sudah cukup membuatnya merasa aman.

Lorong kos mulai sedikit ramai ketika Anneliese keluar dari kamar. Beberapa penghuni lain lewat sambil membawa handuk atau kantong plastik berisi sarapan. Tidak ada yang benar-benar mengenalnya secara dekat, tetapi mereka sudah terbiasa melihat wajahnya setiap hari.

Seorang ibu yang tinggal dua kamar dari tempatnya mengangguk kecil.

Anneliese membalas dengan senyum ringan.

Dulu, bahkan gerakan kecil seperti itu terasa berat. Sekarang tidak lagi.

Ia berjalan keluar dari bangunan kos, menuju jalan yang sudah mulai dipenuhi aktivitas pagi. Sepeda motor lewat satu per satu. Warung kecil di ujung jalan sudah membuka pintunya. Bau nasi goreng dan kopi hitam bercampur dengan udara yang masih lembap.

Langkah Anneliese stabil.

Tidak cepat, tidak juga ragu.

Kadang-kadang, ingatan lama masih muncul. Biasanya datang dari hal-hal kecil: bau makanan basi, suara ember logam, atau langkah seseorang yang terlalu pelan di belakangnya.

Namun sekarang, ingatan itu tidak lagi menguasainya.

Ia hanya lewat.

Seperti bayangan yang tidak lagi berkuasa.

Restoran tempat ia bekerja sudah mulai hidup ketika Anneliese tiba.

Uap dari panci besar sup ayam naik perlahan ke udara. Suara sendok logam beradu dengan mangkuk terdengar dari dapur. Aroma rempah-rempah hangat memenuhi ruangan.

Ini adalah salah satu tempat yang tanpa ia sadari telah menyelamatkannya.

Ia masuk melalui pintu samping seperti biasa.

“Selamat pagi,” kata salah satu rekan kerjanya dari dapur.

“Pagi,” jawab Anneliese.

Tidak panjang, tapi cukup hangat.

Sekarang ia bukan lagi pekerja sementara seperti dulu. Bos restoran sudah menjadikannya karyawan bulanan sejak beberapa waktu lalu. Keputusan itu datang tanpa pengumuman besar, hanya disampaikan dengan nada sederhana suatu sore setelah jam kerja.

Tetapi bagi Anneliese, itu adalah tanda bahwa hidupnya mulai berdiri di tanah yang lebih stabil.

Ia langsung mulai bekerja.

Mencuci piring.
Merapikan meja.
Membantu membawa mangkuk ke pelanggan.

Gerakannya sudah sangat terlatih. Tidak terburu-buru, tetapi efisien. Orang-orang di restoran mempercayainya. Mereka tidak banyak bertanya tentang masa lalunya, dan Anneliese juga tidak pernah merasa perlu menjelaskan.

Hubungan mereka cukup sederhana.

Bekerja bersama.
Saling membantu.
Lalu pulang.

Kadang itulah bentuk hubungan yang paling nyaman.

Menjelang siang, restoran menjadi ramai.

Orang-orang datang untuk makan sup hangat, soto, dan mi kuah. Suara percakapan memenuhi ruangan, tetapi tidak terasa mengganggu. Anneliese bergerak dari satu meja ke meja lain dengan tenang.

Seorang pelanggan yang datang cukup sering tersenyum padanya.

“Seperti biasa ya,” kata pria itu.

Anneliese mengangguk kecil.

Ia mulai mengenali pola orang-orang. Siapa yang suka duduk dekat jendela. Siapa yang selalu memesan menu yang sama. Hal-hal kecil seperti itu membuat dunia terasa lebih normal.

Lebih manusiawi.

Kadang, tanpa sengaja, ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri — sebuah kebiasaan lama yang dulu muncul saat ia merasa cemas. Sekarang gerakan itu hanya refleks yang cepat hilang.

Tubuhnya mulai belajar bahwa bahaya tidak selalu ada.

Sore datang tanpa terasa.

Hujan tipis mulai turun di luar restoran. Suara air mengenai atap seng terdengar lembut, hampir seperti irama yang menenangkan. Para pelanggan mulai berkurang satu per satu.

Anneliese berdiri sejenak di dekat dapur, memperhatikan air hujan di luar.

Dulu, hujan sering membuatnya merasa tidak aman.

Sekarang hujan hanya terasa seperti cuaca.

Ia tidak lagi harus mencari tempat berlindung di lorong gelap.

Ia sudah punya tempat kembali.

Malam tiba seperti biasa.

Setelah pekerjaan selesai, Anneliese membantu merapikan dapur terakhir. Rekan-rekannya berbicara santai tentang hal-hal sederhana: harga bahan makanan, cerita pelanggan aneh, atau rencana libur minggu depan.

Anneliese mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Namun kali ini ia tidak merasa terasing.

Ia hanya menjadi bagian dari suasana itu.

Setelah semuanya selesai, ia mengambil tas kecilnya dan keluar dari restoran.

Udara malam cukup sejuk.

Langkahnya menuju jalan yang akan membawanya kembali ke kamar kos. Tidak jauh, tidak juga terlalu dekat. Cukup untuk berjalan beberapa menit sambil menenangkan pikiran.

Kadang ia masih melewati jalan yang dulu pernah ia lalui ketika hidupnya jauh lebih sulit.

Namun sekarang perasaannya berbeda.

Bukan takut.

Lebih seperti seseorang yang melihat masa lalu dari jarak yang aman.

Ketika akhirnya sampai di depan bangunan kos, Anneliese berhenti sebentar.

Lampu lorong sudah menyala.

Beberapa penghuni masih duduk di kursi plastik sambil berbincang pelan. Suasana sederhana itu terasa cukup hangat.

“Sore, mbak Annel….” sapa ibu-ibu penghuni kos dengan ramah.

“Sore juga, Bu…” jawab Anneliese sambil tersenyum ramah.

Ia masuk ke dalam, berjalan menuju kamarnya, lalu membuka pintu dengan tenang.

Ruangan kecil itu menyambutnya seperti biasa.

Sunyi, bersih, dan cukup.

Anneliese menutup pintu perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hidupnya tidak terasa seperti sesuatu yang harus dikejar atau dilawan setiap hari.

Ia hanya menjalaninya.

Dan tanpa ia sadari, enam bulan terakhir telah mengubah hampir segalanya.

*

Bersambung ke Episode 25 — Tubuh yang Kembali Mengingat Cara Hidup

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 1

Episode 1 - Terbang ke Semarang dengan Sayap Impian Siang hari jam 11 waktu setempat…...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 10

Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 26

Episode 26 — Selebaran yang Datang Terlalu Tepat Hari itu sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 29

Episode 29 — Kota yang Mulai Terasa Rumah Hari-hari berjalan tanpa terasa mendesak. Tidak ada...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 6

Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya Mereka menemukannya menjelang sore. Hujan baru saja berhenti....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!