Skip to content

Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai – Episode 27

Episode 27 — Senja di Kota Semarang

Beberapa minggu telah berlalu sejak Anneliese meninggalkan restoran kecil tempat ia bekerja dulu.

Keputusan itu tidak datang dengan mudah.

Waktu itu hari terakhirnya di restoran terasa sedikit canggung. Rekan-rekan kerjanya mengucapkan selamat dengan wajah campur aduk — bangga sekaligus kehilangan. Anneliese bukan sekedar teman kerja, ia adalah teman yang baik, bagaikan saudara, bagaikan keluarga. Bos restoran bahkan sempat terdiam beberapa detik ketika menerima surat pengunduran diri sederhana dari Anneliese.

Namun pada akhirnya ia hanya berkata pelan,

“Kalau ada kesempatan seperti itu…. kamu memang harus ambil.”

Anneliese mengangguk dengan sopan.

Ia dipeluk oleh Bos restoran. Selama beberapa detik Bos restoran itu memeluknya, bos restoran tempat Anneliese bekerja adalah bos yang baik, sabar, dan mau membimbing dengan sabar dan telaten. Si Bos teringat momen ketika berkenalan pada saat Anneliese akan diwawancarainya, ia menitikkan airmata, mengambil nafas dalam-dalam. Anneliese adalah seorang karyawan yang baik, Ia pergi dengan cara yang baik.

Tanpa meninggalkan luka.

Waktu itu adalah perpisahan yang sangat berat. Berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti saudara.

Sekarang kehidupannya terasa sangat berbeda.

Bangunan lembaga pendidikan bahasa asing itu berdiri cukup besar di pusat Semarang. Tidak terlalu mewah, tetapi terlihat rapi dan terawat. Di bagian belakang kompleks terdapat bangunan asrama untuk para pengajar. Termasuk untuk dirinya sendiri.

Di sanalah Anneliese tinggal sekarang.

Kamarnya sederhana namun nyaman. Ada meja kerja, lemari pakaian, tempat tidur yang cukup luas, dan jendela yang menghadap ke halaman kecil dengan beberapa pohon rindang. Pohon rindang yang dapat menyejukkan matanya di kala terik matahari menerpa.

Setiap pagi ia bangun lebih awal.

Bukan karena terpaksa.

Melainkan karena tubuhnya sendiri sudah terbiasa dengan ritme hidup yang teratur.

Ia mandi, merapikan rambutnya, lalu memilih pakaian dengan hati-hati. Biasanya blus sederhana dipadukan dengan rok yang rapi. Tidak berlebihan, tetapi cukup elegan.

Tubuhnya sekarang terlihat jauh lebih sehat.

Berat badannya sudah stabil. Bahunya tidak lagi terlihat terlalu kurus seperti dulu. Kulit wajahnya segar, dan matanya tidak lagi menyimpan bayangan kelelahan yang dulu selalu terlihat. Ia terlihat jauh lebih cantik, tubuhnya lebih berisi, dan lebih berwibawa.

Ia bahkan mulai memakai parfum ringan.

Aroma yang lembut. Selembut segarnya udara pagi ketika ia bangun tidur.

Kelas Bahasa Belanda yang diajarnya cukup ramai.

Sebagian siswa adalah mahasiswa yang ingin belajar bahasa asing. Ada juga beberapa orang yang bekerja di perusahaan internasional dan ingin meningkatkan kemampuan bahasa mereka.

Anneliese mengajar dengan cara yang sederhana namun jelas.

Ia tidak terlalu banyak menggunakan metode rumit. Ia lebih sering menjelaskan dengan contoh sehari-hari dan percakapan langsung.

“Kalau di Belanda,” katanya suatu hari sambil menulis di papan tulis,
“orang sering menggunakan kalimat ini saat berbicara santai.”

Para siswa memperhatikan dengan serius.

Kadang-kadang mereka tertawa ketika Anneliese menirukan aksen orang Belanda yang terlalu cepat.

Suasana kelas terasa hidup.

Dan tanpa ia sadari, Anneliese sendiri mulai menikmati pekerjaannya.

Ia merasa seperti menemukan kembali bagian dari dirinya yang sempat hilang.

Sore itu kelas terakhir selesai sedikit lebih cepat.

Para siswa mulai meninggalkan ruangan satu per satu sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Bu Anneliese.”

“Sampai jumpa besok.”

Anneliese mengangguk dengan senyum kecil setiap kali seseorang melewati pintu.

Ketika ruangan sudah kosong, ia merapikan beberapa buku di mejanya, lalu mematikan lampu kelas.

Hari sudah mulai berubah menjadi senja.

Langit Semarang terlihat agak keemasan ketika ia keluar dari gedung lembaga pendidikan itu.

Jalanan di sekitar pusat kota mulai ramai oleh orang yang pulang kerja.

Anneliese berjalan perlahan menyusuri trotoar.

Tidak ada tujuan khusus.

Kadang setelah mengajar ia suka berjalan sebentar sebelum kembali ke asrama.

Udara sore terasa cukup nyaman.

Tidak terlalu panas.

Ketika ia melewati sebuah kafe kecil di pinggir jalan, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Seseorang keluar dari pintu kafe itu.

Pria dengan rambut hitam panjang sebahu.
Beanie hitam di kepalanya.
Kacamata hitam dan masker medis yang hampir selalu ia pakai.

Coat hitam dengan kerah bulu putih yang sama.

DewaBuku.

Pria itu tampak sedikit terkejut melihatnya.

Kemudian ia berhenti.

Anneliese juga berhenti beberapa langkah dari sana.

Untuk sesaat mereka hanya saling menatap.

Lalu DewaBuku mengangkat tangan sedikit sebagai salam.

“Selamat sore.”

Anneliese tersenyum kecil.

“Selamat sore.”

Tidak ada keheningan yang canggung.

Hanya keheningan yang terasa wajar.

DewaBuku memandangnya sebentar sebelum berkata,

“Sepertinya hidup Anda berjalan cukup baik sekarang.”

Anneliese tertawa pelan.

“Tampaknya begitu.”

Ia tidak menjelaskan panjang lebar.

Tetapi perubahan pada dirinya memang cukup jelas terlihat.

DewaBuku kemudian menunjuk ke arah kafe kecil di belakangnya.

“Saya baru saja selesai minum kopi.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu menambahkan dengan nada santai,

“Kalau Anda tidak sedang terburu-buru…. mungkin kita bisa minum kopi sebentar.”

Anneliese memandang kafe itu.

Tempatnya sederhana. Tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja kecil dan lampu hangat yang mulai menyala karena senja sudah turun.

Ia berpikir sebentar.

Lalu mengangguk.

“Baik.”

Mereka duduk di meja dekat jendela.

Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi panas beberapa menit kemudian.

Uap tipis naik dari permukaan kopi.

Suasana kafe cukup tenang.

Percakapan mereka juga tidak terlalu panjang.

Sebagian besar hanya tentang hal-hal sederhana.

Tentang kota Semarang.
Tentang pekerjaan baru Anneliese.
Tentang betapa cepatnya waktu berlalu.

DewaBuku tidak pernah bertanya tentang masa lalu Anneliese.

Dan Anneliese juga tidak pernah bertanya banyak tentang kehidupan pria itu.

Seolah mereka berdua sepakat menjaga batas yang tidak perlu dilanggar.

Namun beberapa kali Anneliese tertawa kecil selama percakapan itu.

Hal yang dulu hampir tidak pernah terjadi.

Senyumnya terlihat ringan.

Seperti seseorang yang sudah tidak lagi membawa beban berat di dalam dirinya.

Ketika kopi mereka hampir habis, langit di luar jendela sudah berubah menjadi gelap.

Lampu jalan mulai menyala di sepanjang trotoar.

DewaBuku melihat ke luar sebentar, lalu kembali menatap Anneliese.

“Senang melihat Anda baik-baik saja.”

Anneliese menatapnya beberapa detik.

“Terima kasih.”

Kata itu sederhana.

Tetapi cukup jujur.

Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kafe.

Angin malam Semarang terasa cukup sejuk.

Di persimpangan jalan, langkah mereka akhirnya harus berpisah.

Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Tidak ada percakapan panjang.

Hanya sebuah salam kecil sebelum berjalan ke arah masing-masing.

Namun ketika Anneliese berjalan kembali menuju asrama guru, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Bukan karena pertemuan itu.

Melainkan karena ia menyadari satu hal yang cukup sederhana.

Hidupnya benar-benar telah bergerak jauh dari tempat ia pernah terjatuh.

Dan untuk pertama kalinya, langkahnya terasa benar-benar ringan.

Sangat ringan. Bahkan untuk sekedar tertawa kecil.

Dalam hati Anneliese, ia berkata: “Aku telah kembali…”

*

Bersambung ke Episode 28 — Ritme yang Tidak Tergesa

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 37

Episode 37 — Sesuatu Yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Pagi itu berjalan seperti biasa. Anneliese...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 10

Episode 10 — Hal-Hal yang Tidak Ditanyakan Tidak ada burung. Tidak ada kendaraan. Bahkan suara...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 6

Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya Mereka menemukannya menjelang sore. Hujan baru saja berhenti....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 12

Episode 12 — Yang Tidak Bisa Ditelan Bau itu datang sebelum pagi. Bukan bau yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Mengejar Mimpi Dari Gedung Terbengkalai - Episode 31

Episode 31 — Ingatan Yang Datang Tanpa Luka Pagi berjalan seperti biasa. Tidak ada yang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!