Skip to content

Teksturnya Tidak Jujur

Pagi itu, minimarket kecil di ujung jalan tampak seperti biasa.

Lampu putihnya terlalu terang.
AC-nya terlalu dingin.
Dan lagu pop lama yang diputar terdengar seperti sedang dipaksa hidup untuk ketiga ribu kalinya.

Tidak ada yang istimewa.

Kecuali satu hal.

Setiap hari Selasa, tepat pukul 4:17 sore, seorang pria selalu datang untuk mengambil tester gratis.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah lebih cepat.

Para kasir tidak tahu siapa namanya.
Mereka hanya menyebutnya:

“Pengamat.”

Bukan karena dia menyeramkan.

Tapi karena cara dia mencicipi makanan terasa terlalu serius untuk sesuatu yang gratis.

Hari itu, seperti biasa, pintu minimarket terbuka pelan.

Ting.

Pria itu masuk memakai jaket hitam tipis meski cuaca di luar cukup panas. Wajahnya tenang. Langkahnya santai. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu.

Mbak Rina yang berjaga di kasir langsung menegakkan badan.

“Itu dia,” bisiknya.

Anak magang di sebelahnya terlihat gugup.

“Yang suka tester itu?”

Rina mengangguk pelan.

“Jangan tatap langsung.”

Pria itu berjalan menuju meja tester kecil dekat rak mi instan.

Hari ini menunya sosis goreng mini.

Seorang SPG berdiri di sana sambil tersenyum profesional yang sudah hampir kelelahan.

“Silakan dicoba, Pak.”

Pria itu mengambil satu tusuk kecil.

Diam.

Mengunyah perlahan.

Terlalu perlahan.

SPG-nya mulai tidak nyaman.

Pria itu menatap kosong ke depan seperti sedang mengenang sesuatu yang pahit dalam hidupnya.

Lalu akhirnya ia bicara.

“Teksturnya tidak jujur.”

Sunyi.

Anak magang hampir menjatuhkan kardus.

SPG itu berkedip dua kali.

“Maaf, Pak?”

Pria itu menunjuk sosis kecil di tangannya.

“Bagian luar berusaha meyakinkan saya bahwa dia renyah.”
“Padahal dalamnya menyerah terlalu cepat.”

Mbak Rina memejamkan mata pelan.

“Nah, mulai lagi…”

Pria itu mengambil air mineral gratis satu gelas kecil.

Berkumur.

Menatap langit-langit minimarket.

“Kalian ganti minyak goreng minggu lalu ya?”

SPG itu mulai panik.

“S-saya kurang tahu, Pak…”

Pria itu mengangguk kecil.

“Saya tahu.”

Lalu ia pergi begitu saja.

Tidak membeli apa pun.

Pintu minimarket berbunyi lagi.

Ting.

Sunyi beberapa detik.

Anak magang akhirnya bicara pelan.

“…Dia sebenarnya siapa?”

Mbak Rina bersandar lelah di meja kasir.

“Tidak ada yang tahu.”

“Dia reviewer makanan?”

“Bukan.”

“Kritikus kuliner?”

“Kayaknya bukan juga.”

“Terus?”

Rina melihat ke arah pintu kaca tempat pria itu tadi keluar.

“Menurut saya…” katanya pelan,
“dia cuma kesepian.”

Anak magang diam.

Di luar, matahari mulai turun perlahan. Motor lalu-lalang tanpa peduli apa pun.

Rina kembali menata struk.

“Awalnya kami takut sama dia,” lanjutnya.

“Kenapa?”

“Karena dia memperlakukan tester gratis seperti sidang akhir kehidupan.”

Anak magang tertawa kecil.

“Tapi lama-lama…”

Rina berhenti sebentar.

“…kami sadar dia selalu datang sendirian.”

Sunyi kecil muncul di antara mereka.

Tidak berat.

Hanya cukup untuk terasa.

Minggu berikutnya, Selasa sore.

Pukul 4:17.

Pintu terbuka lagi.

Ting.

Pria itu datang seperti biasa.

Jaket yang sama.
Langkah yang sama.
Wajah tenang yang sulit ditebak.

Hari itu testernya pastel mini.

Saat ia mendekat, SPG baru terlihat tegang.

Namun sebelum pria itu bicara, Mbak Rina sudah lebih dulu meletakkan satu piring kecil tambahan di meja tester.

“Yang ini baru digoreng, Pak,” katanya santai.

Pria itu melihat piring kecil itu beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

Bukan senyum penuh.

Tapi cukup dekat.

Ia mengambil satu.

Mengunyah perlahan.

Semua pegawai diam menunggu.

Pria itu menelan.

“…Lebih jujur,” katanya akhirnya.

Dan entah kenapa, seluruh minimarket terasa sedikit lega setelah itu.

*

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
Payung di Dalam Rumah

Payung di Dalam Rumah Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Pak Joko mulai membawa payung...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 1 - Mesin Cuci Jam 2 Pagi

SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Apartemen "Melati Indah" sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk menyimpan...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Ojek Pelan di Lampu Merah

Setiap kota besar selalu punya satu pengendara motor yang membuat orang lain mempertanyakan konsep waktu....

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Episode 2 - Siklus Pengering

SERIAL: "MESIN CUCI PENJELAJAH WAKTU" Setelah tiga menit penuh kebingungan, akhirnya Raffi berhasil memahami satu...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
Kursi Pojok

Kafe itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kopinya biasa.Musiknya terlalu pelan.Dan AC-nya punya kebiasaan aneh: kadang...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!