Skip to content

SAILORMOON — ROJALI SUDAH BUKAN ROJALI (PART 3)

ROJALI_SUDAH_BUKAN_ROJALI

Beberapa hari kemudian, gudang di Kembangan berubah jadi tempat rapat besar.
Brahma Surya mempersiapkan pengiriman “serbuk pagi” terbesar mereka ke luar Jakarta.
Namun ketika truk pertama hendak berangkat, pintu besi besar tiba-tiba terbuka — dihantam angin dingin yang membawa cahaya keperakan.

SailorMoon melangkah masuk, disusul DewaBuku.
Wajah Brahma menegang, tapi ia tetap tersenyum.

“Jadi ini DewaBuku dan Bidadari yang suka ikut campur urusan dunia bawah?”
DewaBuku berjalan tenang dan berkata dengan nada yang sangat tenang dan santai. “Aku datang bukan untuk kau. Aku hanya ingin anak itu.”

Rojali maju, berdiri di samping Brahma.
“Anak itu siapa, hah? Gue nggak punya utang sama lo!”

DewaBuku menatapnya lama, lalu berkata pelan:
“Dulu, waktu kau datang ke barbershopku minta kerja, aku cuma bisa bilang: ‘perbaiki pikiranmu dulu sebelum penampilanmu’. Kau ingat?”

Rojali menggertakkan gigi.
“Gue inget! Tapi kata-kata itu cuma omong kosong buat orang yang nggak pernah lapar!”

Udara menegang.
Rojali menarik pistol dari pinggangnya, menodongkan ke arah DewaBuku.

Namun sebelum pelatuk ditekan, SailorMoon melangkah maju, menatap Rojali dalam-dalam.
Cahaya bulan memantul di matanya — memperlihatkan bayangan anak kecil yang dulu pernah bermimpi.

“Rojali… tolong, jangan hilang.”
“Terlambat!”

Ia menembak. Tapi DewaBuku menghindar cepat, dan peluru hanya menghantam dinding.
Pertarungan pun pecah.

DewaBuku menangkis serangan bertubi-tubi dengan gerakan presisi — tiap langkahnya seperti tarian bela diri yang terlatih. Ia menangkis pukulan, memutar, menahan, tapi tak membalas keras. Karena DewaBuku faham bahwa sebenarnya Rojali dulunya adalah anak yang baik dan dia yakin pasti Rojali bisa kembali ke jalan yang benar.

“Kau bukan musuhku, Nak. Kau adalah musuh buat dirimu sendiri.”
“Diam!! Gue bukan anak Lo!”

Rojali memukul lebih keras, tapi setiap kali DewaBuku menatapnya, hatinya bergetar.
Hingga akhirnya, ia terpukul mundur dan terjatuh ke lantai, darah menetes di bibirnya.

DewaBuku mendekat perlahan.
“Tinggalkan tempat ini sebelum kamu kehilangan semuanya.”

Tapi Rojali bangkit lagi.
Dengan teriakan marah, ia menendang tong bensin, menyalakan api, lalu berlari menuju ruang dalam gudang.

Brahma Surya berteriak, “TIARAAP!!!”

DUAARRRR……Ledakan besar mengguncang bangunan gudang tua di Kembangan itu. Semua orang yang disitu tiarap, termasuk DewaBuku, SailorMoon, dan semua anak buah Brahma Surya.

“ANAK-ANAK!! AYO CABUT! SELAMATKAN DIRI KALIAAAN!!!” teriak Brahma Surya sambil berlari keluar diikuti oleh semua anak buahnya.

DUAARRRR….DUAARRR…. Terjadi beberapa kali ledakan susulan di gudang tua itu. Gudang kini terbakar hebat.

DewaBuku dan SailorMoon bangkit dari tiarapnya dan berpencar. DewaBuku berlari kearah sumber ledakan melalui lorong sebelah kiri sedangkan SailorMoon berlari masuk melalui lorong sebelah kanan, menembus asap dan puing-puing. Di antara api yang menjilat atap, ia menemukan Rojali terduduk di sudut ruangan, memegang foto lama dari panti asuhan — foto dirinya bersama teman-teman kecil yang sudah lama hilang.

Air mata menetes di pipinya, bercampur jelaga.
“Aku cuma… mau diingat,” bisiknya.

SailorMoon berlutut di depannya.
“Setiap manusia punya cahaya, Rojali. Tapi kadang cahaya itu harus melewati api dulu biar bisa bersinar lagi.”

Ia mengulurkan tangan.
Untuk sesaat, Rojali menatapnya — ragu. Lalu ia menggapai tangan itu.

Namun dari balik asap, suara langkah kaki Brahma Surya terdengar.
“Jangan coba kabur, bocah! Kenapa kau sambut uluran tangan gadis itu?”

Ia menodongkan pistol ke arah mereka.
Sebelum pelatuk ditarik, DewaBuku muncul dari sisi lain dan menendang senjatanya. Peluru meleset, mengenai tangki bensin — dan sekali lagi, DUAARRRR – ledakan terjadi kesekian kalinya.

Dunia seolah berhenti sejenak dalam cahaya oranye menyala.

Ketika debu mereda, gudang sudah rata dengan tanah.
Brahma Surya lenyap.
Rojali terbaring di antara reruntuhan, masih bernapas tapi lemah.

DewaBuku berjongkok di sampingnya.
“Sekarang kamu ngerti kan, Nak… hidup bukan tentang ngalahin dunia, tapi ngalahin gelap di dalam dirimu sendiri.”

Rojali tersenyum tipis, lalu memejamkan mata. Dia sudah terlalu lama menyimpan dendam kepada DewaBuku, salah satu orang yang pernah menolaknya saat melamar kerja di Barbershop “JSW Gentlemen’s Room”

kondisi Rojali sangat lemah dan batuk-batuk, tangan kanannya meraih jam tangan di pergelangan tangan kirinya, memencet tombol merah….dan….

DUAARRRR…..DUAARRRR…..DUAAARRRRR….
terjadi ledakan bertubi-tubi, DewaBuku terlempar 10 meter dan membentur pintu kayu tebal hingga daun pintunya pecah berkeping-keping.

Asap mengepul hitam pekat bercampur dengan gumpalan api berwarna kuning bercampur merah yang menyala-nyala. Aroma bensin dan oli ada dimana-mana sampai dini hari.

Hening. Sunyi.
Hanya suara kayu terbakar dan ledakan gas elpiji 3 kg bersahut-sahutan.

Satu jam kemudian….Subuh menjelang.

Langit Jakarta berwarna ungu lembut, seperti luka yang mulai sembuh.
Polisi datang, api padam, dan semua yang tersisa hanyalah bau asap dan dingin pagi.

SailorMoon berdiri di atas reruntuhan, keningnya masih meneteskan darah segar, menatap horizon yang perlahan diterangi cahaya matahari. DewaBuku berdiri di sampingnya, membawa tas kulit hitam, jaket kulit yang dipakainya penuh debu reruntuhan bangunan, jari kelingking kirinya bergetar menahan sakit karena terluka akibat tertimpa paving-block.

“Dia akan selamat,” katanya pelan.
SailorMoon menoleh. “Kamu yakin?”
DewaBuku mengangguk. “Dia manusia. Dan manusia selalu punya peluang kedua — bahkan di tempat seburuk ini.”

SailorMoon menatap kota yang baru bangun. “Jakarta… kota tanpa tidur, tapi penuh mimpi yang patah.” – Sailormun menyeka darah di keningnya.
DewaBuku tersenyum samar. “Kadang, patah itu cuma cara lain dari semesta buat ngajarin kita berdiri lagi.”

Mereka berdua berjalan menjauh dari reruntuhan, meninggalkan jejak di jalan yang masih basah oleh hujan malam. Dan di belakang mereka, cahaya pertama matahari memantul di genangan air —
menyerupai bentuk bulan sabit yang sempurna.

Bersambung ke episode SAILORMOON — SINAR DARI LANGIT KEMBANGAN (PART 4)

Author Profile

jatigift

Related Posts

image
SAILORMOON - KEPUTUSAN DARI ARSIP NOL (PART 13)

Cahaya fajar baru saja menyentuh langit Jakarta ketika sesuatu yang tidak biasa terjadi di seluruh...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – PENJAGA YANG DIAWASI (PART 19)

Setelah berpikir seperti itu, DewaBuku merasa bahwa perutnya sudah kosong karena selama sehari semalam tidak...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — TERNYATA YANTO TIDAK PERGI KE WARTEG (PART 5)

Jakarta Barat, pukul 04.07 pagi. Langit mulai memudar ke abu-abu muda, tapi udara masih berat...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON — RAHASIA YANG TERBANGUN DI TELUK GONG (PART 9)

Pintu besi tua itu mengerang pelan saat didorong, seperti benda yang sudah terlalu lama memendam...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

image
SAILORMOON – MANIFESTASI DENDAM BRAHMA SURYA (PART 17)

Tidak semua kehancuran dimulai dengan ledakan.Sebagian dimulai dengan kesadaran. Pukul 00.17 WIB, Teluk Gong berhenti...

Read More
image-avater

DewaBukuJSW

error: Content is protected !!