Episode 16 — Pekerjaan Pertama

Restoran itu bersih.
Bukan bersih yang berlebihan, bukan pula bersih yang dibuat-buat. Meja-meja tersusun rapi. Lantai kering. Bau sabun dan minyak panas bercampur tanpa saling menindih. Segalanya berada di tempat yang tepat—dan tetap di sana.
Anneliese berdiri di dekat pintu belakang, menunggu dipanggil.
Seragamnya sederhana. Kemeja polos, celemek gelap. Ukurannya sedikit kebesaran, tapi tidak ada yang mengomentari. Ia menggulung lengan baju dengan gerakan pelan, berhati-hati agar tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Tangannya sempat berhenti di udara sebelum menyentuh kain—lalu turun sendiri, seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan.
“Bisa mulai sekarang.”
Suaranya datar. Tidak dingin. Tidak hangat. Hanya instruksi.
Anneliese mengangguk.
Ia tidak berkata terima kasih.
Di dalam dapur, suara hadir tapi teratur. Pisau memotong sayur dengan ritme yang konsisten. Air mengalir lalu berhenti. Piring beradu satu sama lain, cepat lalu disusun. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah. Bahkan kesalahan pun dibetulkan tanpa nada tinggi.
Ia diberi tugas membersihkan meja dan membawa piring kotor ke belakang.
Tugas sederhana.
Tubuhnya menerima itu tanpa protes.
Pekerjaan itu terasa ganjil bagi tubuh asing di negeri orang. Biasanya, tubuh seperti miliknya ditempatkan lebih tinggi. Tapi tidak hari ini. Tidak untuk Anneliese.
Langkahnya agak kaku di awal. Bukan karena gugup—lebih karena ia menunggu sesuatu yang tidak datang. Tidak ada genangan. Tidak ada bau lama. Tidak ada sudut gelap yang menuntut kewaspadaan berlebih.
Ia mengangkat satu piring.
Beratnya normal.
Ia mengangkat dua.
Masih normal.
Tangannya tidak gemetar. Itu mengejutkannya. Ia menurunkan piring-piring itu di bak cuci, menyusunnya seperti yang dilakukan orang lain. Air sabun mengenai pergelangan tangannya. Hangat. Biasa.
Bau sabun itu membuat dadanya mengencang sepersekian detik.
Bukan karena kenangan tertentu—lebih karena tidak ada kenangan yang menyertainya. Bau itu berdiri sendiri, tidak menempel pada apa pun. Dan itu terasa asing.
Seorang pegawai lain lewat di sampingnya.
“Hati-hati, lantainya licin,” katanya ringan, tanpa menatap lama.
Anneliese mengangguk lagi.
Ia ingin mengatakan “iya”.
Ia ingin mengatakan “terima kasih”.
Kedua kata itu terasa terlalu besar di lidahnya.
Waktu bergerak dengan cara yang berbeda di tempat ini. Tidak lambat. Tidak cepat. Ia hanya berjalan, tanpa menunggu siapa pun. Anneliese membersihkan meja demi meja. Sisa makanan. Gelas dengan bekas bibir. Sendok yang masih hangat.
Ia belajar melihat orang dari jarak aman.
Mereka makan. Tertawa. Mengeluh pelan. Mengangkat tangan memanggil pelayan. Tidak ada yang melihatnya lebih lama dari perlu. Tidak ada yang menghindarinya. Ia bukan pusat apa pun.
Dan itu melelahkan dengan caranya sendiri.
Di sela-sela pekerjaan, tangannya sempat bergerak—mengusap ibu jari dengan telunjuk, satu kali, lalu berhenti. Ia menyadari gerakan itu dan menurunkannya pelan, seolah meminta maaf pada udara.
Jam berlalu.
Tidak ada kejadian.
Saat waktu istirahat singkat tiba, ia duduk di bangku kecil dekat dapur. Sebungkus makanan diletakkan di depannya. Ia membuka bungkus itu perlahan. Nasi. Lauk sederhana. Uap tipis naik, lalu menghilang.
Ia menunggu.
Satu suap kecil masuk ke mulutnya.
Ia mengunyah.
Menelan.
Kali ini berhasil.
Tidak ada rasa lega. Tidak ada rasa senang. Hanya konfirmasi bahwa tubuhnya masih mau bekerja sama—untuk saat ini.
Menjelang sore, seseorang menyerahkan amplop tipis padanya.
“Upah harian. Besok datang jam yang sama.”
Anneliese menerima amplop itu dengan dua tangan. Ia mengangguk. Gerakannya rapi. Tepat.
Saat berjalan keluar, udara luar terasa terlalu luas. Terlalu bebas. Ia berhenti sebentar di trotoar, memegang amplop itu di saku celemeknya, memastikan masih ada.
Ada bagian kecil di dirinya yang ingin duduk di lantai dan diam saja.
Ia tidak melakukannya.
Ia pulang dengan langkah yang sama seperti orang lain—tidak tergesa, tidak ragu. Dari luar, tidak ada yang bisa menebak bahwa hari ini adalah hari pertama ia kembali menjadi sesuatu yang menyerupai manusia.
Malam itu, sebelum tidur, tangannya kembali bergerak sebentar.
Kali ini, ia membiarkannya.
Besok, ia akan kembali bekerja.
*
Bersambung ke Episode 17 — Ternyata Mereka Semua Menerimaku
Author Profile
Categories
Related Posts
Episode 11 — Lemari Yang Hampir Sama Pagi datang tanpa benar-benar masuk. Cahaya hanya berhenti...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 4 — Hal-Hal Kecil yang Mulai Dihitung Tidak ada perubahan besar yang terlihat pagi...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 39 — Tempat Yang Kembali Dimiliki Tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Cahaya masuk melalui...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 2 – Hari-Hari Yang Terlalu Indah Semarang, pukul enam sore. Matahari belum sepenuhnya tenggelam...
Read MoreDewaBukuJSW
Episode 6 — Tempat Yang Tidak Bertanya Mereka menemukannya menjelang sore. Hujan baru saja berhenti....
Read More