
SERIAL TITLE: “SEBELUM AKU MATI”
Tetapi tak ada yang tahu tentang apa yang seharusnya tidak ditemukan manusia.
Yang jelas… listrik mati. Sangat tidak nyaman.
Ardi dan Pak Samosir memutuskan untuk pamit.
Eddie mengantar mereka sampai halaman depan.
~ ~ ~
Sejak Ardi menemukan kejanggalan itu…
tidur Eddie semakin hancur.
Karena ada perbedaan besar antara:
- mengalami nasib buruk,
dan—
- mengetahui bahwa seseorang mungkin sengaja menghancurkan hidupmu.
Yang pertama masih bisa diterima.
Yang kedua…
perlahan membunuh kewarasan.
Malam-malam Eddie mulai dipenuhi pikiran buruk.
Ia duduk sendirian di kamar gelap sambil menatap monitor mati.
Kadang sampai subuh.
Kadang tanpa sadar merokok satu bungkus penuh.
Dan semakin lama…
kepalanya semakin dipenuhi satu pertanyaan:
“Siapa sebenarnya yang melakukan ini?”
Tommy?
Pak Jackson?
Pesaing bisnis?
Atau…
semuanya sekaligus?
Sejak hari itu Ardi sering bertamu ke rumah Eddie.
Mereka berdua semakin saling mengenal.
tapi belum akrab.
Ardi terus menyelidiki diam-diam.
Ia mulai menghubungi beberapa kenalan lama di dunia hosting dan digital marketing.
Beberapa menolak bicara.
Beberapa pura-pura tidak tahu.
Tetapi ada satu pola yang mulai muncul:
Nama Eddie memang sengaja dihancurkan.
Dan lebih aneh lagi—
proses blacklist itu terlalu cepat.
Seolah ada seseorang dengan pengaruh besar yang mendorong semuanya.
“Ini bukan sekadar emosi,” kata Ardi suatu malam kepada Pak Samosir.
“Ini eksekusi. Gejalanya sama dengan balas dendam.”
Pak Samosir diam sambil merokok.
“Maksudmu?”
“Ada seseorang yang merasa dipermalukan. Dia membalas.”
“Menurutmu siapa?”
Ardi menatap layar laptop.
“Aku belum tahu.”
“Tapi orang yang melakukan ini pasti punya akses luas.”
Di sisi lain…
Jackson Sihotang mulai merasa gelisah.
Awalnya ia percaya penuh pada Tommy.
Karena Tommy adalah orang kepercayaannya selama bertahun-tahun.
Tetapi semakin lama…
ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Suatu malam di kantornya…
Jackson membuka kembali arsip pesan lama Eddie.
Email, SMS, Whatsapp.
Pendek.
Sopan.
Rapi.
Tidak seperti orang yang berniat menipu.
Dan yang paling mengganggu—
Eddie selalu membalas pesan kerja bahkan saat tengah malam.
Orang seperti itu…
menghilang mendadak tanpa alasan?
Aneh.
Tidak mungkin.
“Permisi, Pak?”
Seorang staf masuk pelan.
“Ada apa?”
“Klien luar negeri yang dulu kerjasama dengan Eddie…”
“masih ada yang tanya soal dia.”
Jackson mengangkat kepala.
“Mereka bilang apa?”
“Katanya Eddie termasuk orang paling disiplin yang pernah mereka kenal.”
Sunyi.
Jackson perlahan bersandar di kursinya. Menatap langit-langit ruangan.
Dadanya mulai terasa tidak nyaman.
Sementara itu…
Eddie semakin tenggelam dalam amarahnya sendiri.
Ia mulai sering membayangkan hal-hal buruk.
Tentang Tommy.
Tentang orang-orang yang menghancurkan hidupnya.
Dan terutama—
tentang Hersi. Adik laki-laki sialan itu.
Karena setiap kali melihat adik lelakinya…
Eddie teringat awal dari semua kehancuran itu.
Nomor telepon.
Debt collector.
Panggilan yang tak berhenti.
Tommy yang salah paham.
Semua bermula dari sana,
dari laki-laki sialan itu. Dari Hersi.
Adik laki-laki yang selalu dibela oleh ibunya.
… dan parahnya lagi, Eddie selalu ingat kata-kata ibunya.
“Maafkan adik lelakimu itu, nak…”
Eddie sungguh-sungguh muak dengan kata-kata itu,
tapi bagaimana lagi? itu adalah kata-kata ibunya,
seorang ibu yang selalu mendoakannya,
seorang ibu yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Malam itu…
hujan turun deras sekali.
Sangat deras, sederas airmata Eddie yang meluncur dalam diam.
Listrik beberapa kali berkedip.
Ibunya sudah tidur.
Sedangkan Eddie duduk sendirian di ruang tengah sambil memegang pisau dapur kecil.
Ruang tengah itu berukuran 8 meter persegi.
Berisi satu set sofa dan meja kayu sederhana peninggalan ayah Eddie.
Bonsai beringin didalam pot keramik berukuran sedang di setiap sudut ruangan.
… dan sepasang kursi kayu jati tua yang sudah retak-retak berwarna coklat muda.
Eddie duduk di salah satu kursi itu.
Lampu terus berkedip. Hujan semakin lebat.
Eddie tetap duduk sendirian sambil memegang pisau dapur kecil.
Airmata Eddie mengalir pelan. Tatapannya kosong.
Sesekali Eddie menghapus airmatanya.
Napasnya berat.
Pikirannya kacau.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai merasa lelah menjadi “orang baik”.
Eddie mendengar suara orang muntah diluar.
Gagang pintu bergerak pelan.
~ ~ ~
Pintu rumah terbuka.
Hersi pulang dalam keadaan sedikit mabuk.
“Ada makanan nggak?”
Eddie diam.
Hersi melepas jaket lalu menghela napas.
“Capek kali…”
Masih diam.
Hersi akhirnya menyadari sesuatu.
Ia menoleh perlahan.
Dan melihat Eddie duduk dalam gelap sambil memegang pisau.
“Bang?”
Suasana mendadak berubah aneh.
Hujan di luar terdengar jauh lebih keras.
Eddie berkata sangat tenang,
setenang lautan luas tanpa ombak di waktu malam.
Gelap.
Sunyi.
… dan mengerikan.
“Aku penasaran…” kata Eddie pelan.
“Kalau malam itu aku angkat telepon Tommy…”
“apa hidupku masih normal sekarang?”
Hersi mengernyit.
“Mulai lagi kau…”
“Aku tanya baik-baik.”
“Aku mana tahu? Ngawur!”
“Tapi semua bermula dari kau.”
Nada suara Eddie sangat tenang.
Dan justru itu yang membuat Hersi mulai takut.
Karena amarah paling berbahaya…
adalah amarah yang sudah terlalu lelah untuk berteriak.
“Bang… simpan dulu pisaunya.”
Eddie hanya tersenyum sinis.
Senyum yang tidak hangat sama sekali.
“Kenapa?”
Hersi menelan ludah.
“Aku cuma malas ribut.”
“Lucu ya…”
“Orang yang menghancurkan hidup orang lain…”
“tapi malas ribut…”
“…selalu ingin semuanya cepat tenang.”
“Sudahlah Bang!”
BRAK!!
Eddie berdiri mendadak.
Kursi kayu jatuh terbalik.
“AKU KEHILANGAN SEMUANYA!!!”
Suara Eddie sangat lantang menggema memenuhi rumah.
“Aku kehilangan nama!”
“Aku kehilangan masa depan!”
“Aku kehilangan hidupku!”
Matanya merah penuh air mata.
Dan Hersi akhirnya melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya:
Eddie benar-benar berada di ujung batas kewarasannya.
… dan Hersi sudah merasakan gelagat yang tidak baik.
Pisau yang terhunus tampak mengkilat dibawah kedipan lampu.
Eddie terus melangkah pelan menuju adik lelakinya.
Eddie tetap berkata dengan sangat tenang.
Pelan. Hampir seperti bisikan.
“Pisau ini sangat tajam, Hersi…”
“Bang! Mau apa kau?”
Eddie tetap melangkah maju. Pelan.
“Hidupku sudah hancur…”
Hersi semakin panik. Melemparkan benda apapun kearah Eddie.
“Bang, ingat! Aku adik lelakimu sendiri! Adik kandung!”
Eddie sesekali mengayunkan pisau yang digenggamnya.
Whooosh… whoosh… whoosh…
Slash… Swish… Dua sayatan mengenai lengan Hersi.
Darah segar merembes. Menetes.
Hersi sudah terdesak di sudut ruang tengah itu.
Tak bisa kemana-mana lagi…
Dengan sigap, Hersi mengambil pot bonsai beringin sebagai pelindung diri.
Tangan Eddie menggenggam pisau semakin kuat.
“Kau harus mati, Hersi…”
Langkahnya perlahan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hersi secara refleks berteriak.
“Hentikan, Bang!”
“jangan berbuat bodoh!”
Tetapi Eddie terus berjalan.
Dan di dalam kepalanya…
semua suara mulai bercampur:
- hinaan,
- makian debt collector,
- tangisan ibunya,
- suara Tommy,
- suara orang-orang yang menyebutnya penipu.
Semuanya menjadi bising.
Sangat bising.
Lalu tiba-tiba—
lampu rumah mati total.
Gelap.
Hersi langsung panik.
Whoosh… Whoosh… Whoosh…
hanya terdengar suara sabetan pisau diudara.
“Bang?!”
Dan dalam kegelapan itu…
dua mata emas muncul perlahan.
Jauh lebih terang daripada sebelumnya.
Berdiri tepat di antara Eddie dan Hersi.
Sosok itu kini terlihat lebih jelas.
Tinggi.
Memakai jubah gelap panjang.
Tubuhnya samar seperti asap.
Tetapi auranya…
sangat besar.
Sangat tua.
Dan sangat sedih.
Eddie membeku.
Tangannya gemetar.
Pisau itu perlahan turun sendiri.
Lalu suara itu kembali terdengar dalam kepalanya.
Namun kali ini…
lebih jelas daripada sebelumnya.
“Kalau kau membunuhnya…”
“maka seluruh penderitaanmu benar-benar sia-sia.”
“itu tidak menyelesaikan masalahmu, nak.”
Air mata Eddie langsung jatuh.
Tubuhnya melemas.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar bahwa kebencian sudah hampir mengubahnya menjadi monster.
Lampu kembali menyala.
Dan sosok Si Mata Emas perlahan menghilang.
Hersi langsung lari keluar rumah tanpa berkata apa-apa lagi.
Pintu terbanting keras.
Sunyi.
Hanya suara hujan tersisa.
dan tetesan darah Hersi di lantai ruang tengah.
~ ~ ~
Eddie jatuh terduduk di lantai.
Pisau dapur terlepas dari tangannya.
Napasnya patah-patah.
Lalu…
ia menangis.
Bukan tangisan marah.
Tetapi tangisan seseorang yang akhirnya sadar…
bahwa dirinya hampir kehilangan kemanusiaannya sendiri.
*
Dilanjutkan ke Episode 9 — Tidak Takut Mati
Author Profile
Categories
Related Posts
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Entah itu makhluk apa Eddie juga tidak tahu. "Barangkali aku...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Ada luka yang tidak muncul karena dipukul. Ada luka yang...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Sebuah kenyamanan yang menjanjikan kebahagiaan. Tahun 2017 adalah tahun terbaik...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Eddie sempat bingung mendengar kata-kata itu,"Waktu yang mana? aku tak...
Read MoreDewaBukuJSW
SERIAL TITLE: "SEBELUM AKU MATI" Keesokan harinya… Pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7.30 WIB Eddie datang...
Read More